Anak Sekecil itu
Beberapa hari yang lalu saya baru saja menjalani perjalanan dengan Kereta Api Mutiara Selatan lagi. Perjalanan saya kali ini bertujuan ke Kota Kampung Halaman saya, Malang. Kepulangan saya ini karena saya harus menghadiri acara SMANTI EDUCATION FAIR.
Ada yang menarik ketika kereta saya sampai di daerah Cipeundeuy (bener ga yah nulisnya..??). Ketika itu saya iseng-iseng aja berdiri di pintu kereta, karena memang udara di dalam gerbong lagi pengap (maklum, kereta bisnis banyak yang ngrokok, dan saya alergi rokok). Ditengah lamunan saya di pintu kereta itu, tiba-tiba ada seseorang yang mengagetkan saya. Ada seorang bocah kecil yang tiba-tiba memanggil saya, “Om“. Whew, baru kali ini saya bertemu dengan orang yang baru pertama kali saya melihatnya, dan orang itu langsung menyapa saya dengan sebutan “Om” (dalam hati saya : kamu kira aku suaminya tantemu apa???).
Dan tiba-tiba saja terjadi percakapan seperti ini :
Bocah Kecil : Om, om, minta uangnya om!!(diulangi sampai 3x dengan semakin lama semakin memelas)
Saya : wah, buat beli apa dek??
Bocah kecil : Buat beli buku om..
Saya : emang adek kelas berapa??
Bocah Kecil : Kelas 4 om..
Saya : Sekolahnya dimana??
Bocah Kecil : (dia tidak menjawab, sepertinya sudah bosan dengan pertanyaan2 saya..)
Saya : Wah, saya juga mau beli buku nih dek, jadi kita sama-sama beli buku nih. jadi gimana dong??
Bocah kecil : (semakin bingung harus berkata apa....dan akhirnya dia pergi)
Saya heran, kenapa setiap saya naik kereta trayek Bandung-Surabaya (maupun sebaliknya) dan sedang berhenti di stasiun itu (menurut ingatan fotografis yang saya miliki), selalu saja ada bocah-bocah kecil yang minta uang. Dan jumlahnya itu tidak sedikit. Mereka selalu menggedor-gedor jendela para penumpang, dan dengan tampang memelas mereka meminta-minta uang kepada para penumpang kereta api. Apakah mereka kesulitan secara ekonomi?? ya mungkin ini bisa jadi jawaban yang paling logis. Memang rata-rata orang yang meminta-minta itu gara-gara masalah ekonomi. Tapi, kenapa mereka bergerombol??? dan selalu ada di tempat yang sama??
Setega itukah orangtua jaman sekarang menjadikan anak sebagai obyek pemerasan untuk memenuhi hasrat orangtuanya?? ah, sudah ah,, saya tidak mau sok tahu lebih banyak lagi,,

Tega gak yah orang tuanya…
Gimana kalo saya membayangkan bahwa yang menggedor jendela adalah bapak2. Trus percakapan yang tadi juga terjadi bukan dengan anak kecil, tapi dengan bapak2…
Comment by etikush — December 28, 2008 @ 11:06 am
[etikush]
wah, sepertinya bakalan lebih seru percakapannya, soalnya akan lebih banyak hal yang bisa jadi bahan pembicaraan
Comment by Administrator — December 28, 2008 @ 3:08 pm
kalo ngeliat gituan
aku mikir apa bener2 g ada otak orang2 kaya di Indonesia membiarkan orang miskin bergelimpangan dimana-mana
aku ngerasain kalo ada amanah berat bagi kita mahasiswa untuk menyelesaikan masalah itu
kadang2 saking menyesalnya aku pengen diciptain jadi burung aja, biar di akhirat kelak g ada pertanggung jawaban
Comment by andi — March 30, 2009 @ 1:00 am
[Andi]
pikiran anda benar,
namun anda tidak perlu merubah diri jadi burung kan???
hehehe
btw, blog saya sudah pindah kesini :
http://sapeq.wordpress.com
be there..
:)
Comment by Administrator — March 30, 2009 @ 12:09 pm