Pendidikan Mental Dimulai dari Niat yang Tulus

Masih segar di kepala saya ketika sedang duduk di bangku kelas 3 SMA. Ketika itu saya diamanahi sebagai panitia Komisi Disiplin Masa Orientasi Siswa (MOS) , dengan deskripsi tugas kurang lebih sebagai berikut:
1.    Mengawasi seluruh peserta dari ketidakdisiplinan selama acara
2.    Membina mental para peserta dengan pressure-pressure yang masih sesuai dengan tingkat kemampuan mental mereka

Dan hanya itu yang saya ingat. Dari deskripsi tugas itu, yang saya kerjakan adalah lebih banyak memberikan pressure kepada adik-adik tingkat saya, berupa serangan-serangan kata-kata yang membuat mereka mampu menyuarakan pendapat mereka serta berani mengemukakan bahwa sebenarnya mereka tidak bersalah. Dan memang benar, orang-orang yang mampu keluar dari tekanan-tekanan yang saya berikan, mereka menjadi orang-orang yang mampu muncul ke permukaan, maksudnya menjadi orang-orang terpilih yang bisa dipercaya dan mempunyai integritas. Begitu pentingnya sebuah kemampuan untuk bekerja dalam tekanan, sehingga setiap yang kita kerjakan terasa ringan dan bukan menjadi sebuah beban.

Saya melihat, banyak model pendidikan pengkaderan sebuah organisasi di negeri ini banyak mengadopsi cara-cara seperti yang saya sebutkan diatas. Bukan tanpa sebab, hal ini memang penting. Karena tugas seorang pemimpin memang lebih ke arah menajerial kumpulan orang, sehingga tekanan selalu datang setiap saat. Dan seorang pemimpin sejati bukanlah orang yang terombang-ambing ketika hanya dengan tiupan angin sepoi-sepoi prinsip hidupnya tergoyahkan. Sebagai seorang mahasiswa yang tugasnya (kata kebanyakan orang) sebagai agent of change, saya mungkin lebih setuju tetap ada tekanan mental dalam model pengkaderan sebuah organisasi, namun porsinya harus tetap sesuai dengan usia dari manusia yang dikader.

Yang terjadi saat ini adalah, motif balas dendam. Mereka yang merasa lebih tua, bisa memperlakukan adik tingkatnya seenak mereka sendiri. Beberapa institusi menggunakan bungkus bernama pengkaderan, padahal yang mereka kerjakan adalah pemuasan nafsu balas dendam dari apa yang telah mereka alami. Saya katakan disini adalah nafsu balas dendam, mengapa?? Karena sebuah pengkaderan tidak boleh berdasarkan nafsu, sebuah pengkaderan butuh keikhlasan dari orang-orang yang ada di dalamnya. Ketika paradigma kaderisasi sudah bergeser dari pembinaan ke arah balas dendam, saya yakin materi-materi lain yang masih bersifat baik dalam kegiatan itu tingkat keberterimaannya akan rendah. Peserta hanya akan mengikuti kegiatan dengan niat akan melakukan hal yang sama di tahun yang akan datang kepada adik tingkat yang selanjutnya. Inilah yang salah dari proses pengkaderan kebanyakan organisasi di negeri ini. Sebuah niat, bisa berujung kepada kehancuran generasi muda. Kalau sudah demikian, mau dibawa kemana negeri ini???

3 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://fiq.blogsome.com/2008/10/28/pendidikan-mental-dimulai-dari-niat-yang-tulus/trackback/

  1. Masalahnya yang gw liat di KEBANYAKAN himpunan di ITB prosesnya aneh, ga ada manfaatnya. Buat gw sih, yang mungkin udah mengenyam hal yang demikian sedemikian sehingga ketika SMA.

    tapi still, lebih bijak berpikir dengan pola what and then how daripada berpikir how and then what. maksudnya berpikir apa yang ingin dicapai dengan cara apa, bukan berpikir bagaimana bikin kaderisasi kemudian baru dengan pembenaran menentukan manfaat dari kaderisasi itu sendiri…..

    yang saya suka, di dunia kerja itu semua lebih profesional.

    Comment by Zulfikar — October 31, 2008 @ 12:04 pm

  2. Iya sih yang paling ditakutkan dari pengkader sekarang adalah ‘niat plus2’ yang cenderung negatif..Namun klo boleh berprasangka positif,insya Allah pengkader itu masih ada niatan untuk membantu yang dikader untuk bisa beradaptasi pada lingkungannya..
    Dulu waktu aku maba dulu blum tau maksud dari beberapa hal saat pengkaderan,namun percayalah,walau mungkin tidak 100%,insya Allah itu ada gunanya

    Comment by Septiandy — November 20, 2008 @ 8:45 pm

  3. [Septiandy]
    tergantung model pengkaderannya seperti apa sih. Mungkin pengkaderan yang anda rasakan
    jauh lebih manusiawi daripada yang dirasakan teman-teman kita yang lain.

    [Zulfikar]
    Iya2, saya tahu, kamu pernah merasakan kaderisasi yang jauh lebih mengerikan daripada di ITB

    Comment by syafiq — January 30, 2009 @ 10:15 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>